Minggu, 21 November 2010

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari

dan bulan apabila mengiringinya

dan siang apabila menampakkannya

dan malam apabila menutupinya

dan langit serta pembinaannya

dan bumi serta penghamparannya

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya)

(As Syam)

Good Wife Will Be ^^ (Part 1)

Tak terasa, usia saya sudah 23 tahun. Orang bilang, perempuan sebaiknya menikah sebelum usia 25 tahun. Tapi pengalaman hidup membuat saya memiliki banyak pertimbangan. Apakah menikah secepatnya adalah jalan terbaik, apakah sebaiknya saya melanjutkan sekolah dulu, apakah calon suami saya orang yang tepat, apakah orang tua menyetujui keputusan saya, apakah orang tua si pria bisa menerima saya, dan masih banyak pertanyaan lain yang muncul di benak saya. Mungkin lebih tepat disebut 'ketakutan' daripada 'pertanyaan.
Seharusnya saat ini pernikahan adalah jalan terbaik saya untuk memperbaiki hidup. Banyak teman dan sahabat saya yang menyarankan untuk segera saja menikah. Hmmm... Andai segampang diucapkan, sudah lama saya menjadi istri orang dan punya beberapa buah hati yang lucu-lucu.
Untuk menikah saat ini, tampaknya saya belum siap. Dan orang tua saya pun masih saja berkata "anak saya masih kecil" setiap kali ada orang yang hendak melamar atau pun menanyakan kapan saya menikah. Hal ini benar-benar membuat saya terpukul dan sadar bahwa di mata orang tua saya, saya belum dewasa hingga belum pantas menikah.
Jadi, daripada membahas bagaimana menjadi calon istri yang baik, saya lebih baik membahas bagaimana menjadi anak yang dewasa dan dapat dipercaya orang tua. Hehehe, saya sadar betul bahwa sifat saya masih kekanak-kanakan dan masih sering ngambekan. Jadi wajar saja dianggap belum pantas menikah.
Karena kedewasaan merupakan 'masalah' buat saya, jadi tips agar menjadi dewasa saya ambil dari beberapa sumber. Hasan Hartanto dalam blognya mengatakan bahwa, untuk menjadi dewasa, seseorang harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah orang tersebut telah menjadi dewasa, atau belum. Diantara faktor-faktor itu adalah:

1. Kematangan berfikir: Seorang yang dewasa, tahu bagaimana harus berfikir sebelum bertindak (berbuat). Ia tahu betul pentingnya perencanaan sebelum melakukan suatu hal, dan evaluasi setelah melakukannya; tidak serta merta, dan tidak “grabak-grubuk”. Seorang yang dewasa dapat berpikir logis, dan kritis.

2. Kedewasaan emosional: Seorang yang dewasa, dapat memahami dan mengendalikan gejolak emosinya. Justru itulah yang membedakannya dengan seorang anak kecil, yang tidak tahu mengapa ia emosi dan bagaimana mengendalikannya. Ia mampu menyalurkan dan menempatkan emosinya pada sesuatu yang benar, tidak salah kaprah.

3. Kecerdasan ruhaniyah: Seorang yang dewasa, memiliki jiwa yang tenang; dalam arti tidak ada kegundahan yang menyebabkan jiwanya labil. Kecerdasan ruhaniyah adalah kemampuan ruhani untuk meyakini dan memahami, bahwa ketenangan sejati itu bersumber dari yang Maha Menenangkan. Ruhani yang cerdas, mampu mengetahui betul bahwa banyak keterbatasan yang ia miliki, sehingga ia dapat menempatkan diri di hadapan Sang Penciptanya, mengetahui hak-Nya, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlashan.

4. Kepekaan sosial: Seorang yang dewasa, akan melihat dirinya adalah bagian dari masyarakat. Suatu komunitas hierarki yang majemuk. Kepekaan hati terhadap masalah dan kondisi sosial realita, akan mampu menumbuh-kembangkan rasa empati, yang menepis jauh-jauh rasa egois dalam berbuat suatu hal. Seorang yang dewasa akan sangat peka, bahwa apa yang dia berikan hari ini kepada orang lain, suatu saat akan dia terima dari orang lain.

Ada juga tips dari Fiandra yang mungkin bermanfaat bagi kamu yang mau belajar jadi dewasa:

1) tidak berbicara keras
hal ini perlu, kadang orang menilai kita yang berbicara dengan nada keras seperti menantang si lawan bicara. emh, nggak ada salahnya di coba memelankan nada suara kita. kesannya juga jadi lebih wibawa kok.

2) tidak memotong pembicaraan orang lain.
pernah nggak sie ngrasa BT omongan kita asal aja dipotong ma orang lain, jengkel banget kan. Nah tahu nggak orang yang dewasa itu orang yang menghargai pembicaraan orang lain, mau jadi dewasa... wajib di coba juga. emang sie nggak gampang jadi pendengar yang baik.

3) tidak melepas kontrol
belajar deh buat nahan emosi, nggak gampang teriak teriak waktu marah asal semprot aja. sedih juga nggak berarti gampang mewek se enak nya... liat tempat, liat sikon. senang juga nggak asal lompat jingkrak jinkrak kepedean... fikirin juga keadaan orang lain di sekitar kita, apalagi yang bisa kena langsung imbas emosi kita.

4) hargailah orang yang lebih dewasa/tua
nah yang ini nggak kalah penting.. masa mau jadi kayak mereka (dewasa)tapi nggak mau menghargai mereka. nggak mau masuk ke komfromitas mereka.


Nice tips. Tapi memang dasarnya saya tipe orang yang tidak mempan dengan teori. Jadi setelah membaca tips di atas, saya pending dulu tulisan ini dan akan saya lanjutkan ketika saya sudah mencapai tingkat kedewasaan yang saya harapkan dan orang lain harapkan.