Demi matahari dan cahayanya di pagi hari
dan bulan apabila mengiringinya
dan siang apabila menampakkannya
dan malam apabila menutupinya
dan langit serta pembinaannya
dan bumi serta penghamparannya
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya)
(As Syam)
Putri sulung dari Ummi Siti Mariam dan Abbi Ruslan.. Kakak dari Nurul Fitriyani, Nurul Wahdaniah dan Gita Nabilla Islami.. Sahabat semua orang yang menghargai persahabatan.. Makhluk Allah SWT yang kerdil.. Belajar menulis, lagi ^^
Minggu, 21 November 2010
Good Wife Will Be ^^ (Part 1)
Tak terasa, usia saya sudah 23 tahun. Orang bilang, perempuan sebaiknya menikah sebelum usia 25 tahun. Tapi pengalaman hidup membuat saya memiliki banyak pertimbangan. Apakah menikah secepatnya adalah jalan terbaik, apakah sebaiknya saya melanjutkan sekolah dulu, apakah calon suami saya orang yang tepat, apakah orang tua menyetujui keputusan saya, apakah orang tua si pria bisa menerima saya, dan masih banyak pertanyaan lain yang muncul di benak saya. Mungkin lebih tepat disebut 'ketakutan' daripada 'pertanyaan.
Seharusnya saat ini pernikahan adalah jalan terbaik saya untuk memperbaiki hidup. Banyak teman dan sahabat saya yang menyarankan untuk segera saja menikah. Hmmm... Andai segampang diucapkan, sudah lama saya menjadi istri orang dan punya beberapa buah hati yang lucu-lucu.
Untuk menikah saat ini, tampaknya saya belum siap. Dan orang tua saya pun masih saja berkata "anak saya masih kecil" setiap kali ada orang yang hendak melamar atau pun menanyakan kapan saya menikah. Hal ini benar-benar membuat saya terpukul dan sadar bahwa di mata orang tua saya, saya belum dewasa hingga belum pantas menikah.
Jadi, daripada membahas bagaimana menjadi calon istri yang baik, saya lebih baik membahas bagaimana menjadi anak yang dewasa dan dapat dipercaya orang tua. Hehehe, saya sadar betul bahwa sifat saya masih kekanak-kanakan dan masih sering ngambekan. Jadi wajar saja dianggap belum pantas menikah.
Karena kedewasaan merupakan 'masalah' buat saya, jadi tips agar menjadi dewasa saya ambil dari beberapa sumber. Hasan Hartanto dalam blognya mengatakan bahwa, untuk menjadi dewasa, seseorang harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah orang tersebut telah menjadi dewasa, atau belum. Diantara faktor-faktor itu adalah:
1. Kematangan berfikir: Seorang yang dewasa, tahu bagaimana harus berfikir sebelum bertindak (berbuat). Ia tahu betul pentingnya perencanaan sebelum melakukan suatu hal, dan evaluasi setelah melakukannya; tidak serta merta, dan tidak “grabak-grubuk”. Seorang yang dewasa dapat berpikir logis, dan kritis.
2. Kedewasaan emosional: Seorang yang dewasa, dapat memahami dan mengendalikan gejolak emosinya. Justru itulah yang membedakannya dengan seorang anak kecil, yang tidak tahu mengapa ia emosi dan bagaimana mengendalikannya. Ia mampu menyalurkan dan menempatkan emosinya pada sesuatu yang benar, tidak salah kaprah.
3. Kecerdasan ruhaniyah: Seorang yang dewasa, memiliki jiwa yang tenang; dalam arti tidak ada kegundahan yang menyebabkan jiwanya labil. Kecerdasan ruhaniyah adalah kemampuan ruhani untuk meyakini dan memahami, bahwa ketenangan sejati itu bersumber dari yang Maha Menenangkan. Ruhani yang cerdas, mampu mengetahui betul bahwa banyak keterbatasan yang ia miliki, sehingga ia dapat menempatkan diri di hadapan Sang Penciptanya, mengetahui hak-Nya, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlashan.
4. Kepekaan sosial: Seorang yang dewasa, akan melihat dirinya adalah bagian dari masyarakat. Suatu komunitas hierarki yang majemuk. Kepekaan hati terhadap masalah dan kondisi sosial realita, akan mampu menumbuh-kembangkan rasa empati, yang menepis jauh-jauh rasa egois dalam berbuat suatu hal. Seorang yang dewasa akan sangat peka, bahwa apa yang dia berikan hari ini kepada orang lain, suatu saat akan dia terima dari orang lain.
Ada juga tips dari Fiandra yang mungkin bermanfaat bagi kamu yang mau belajar jadi dewasa:
1) tidak berbicara keras
hal ini perlu, kadang orang menilai kita yang berbicara dengan nada keras seperti menantang si lawan bicara. emh, nggak ada salahnya di coba memelankan nada suara kita. kesannya juga jadi lebih wibawa kok.
2) tidak memotong pembicaraan orang lain.
pernah nggak sie ngrasa BT omongan kita asal aja dipotong ma orang lain, jengkel banget kan. Nah tahu nggak orang yang dewasa itu orang yang menghargai pembicaraan orang lain, mau jadi dewasa... wajib di coba juga. emang sie nggak gampang jadi pendengar yang baik.
3) tidak melepas kontrol
belajar deh buat nahan emosi, nggak gampang teriak teriak waktu marah asal semprot aja. sedih juga nggak berarti gampang mewek se enak nya... liat tempat, liat sikon. senang juga nggak asal lompat jingkrak jinkrak kepedean... fikirin juga keadaan orang lain di sekitar kita, apalagi yang bisa kena langsung imbas emosi kita.
4) hargailah orang yang lebih dewasa/tua
nah yang ini nggak kalah penting.. masa mau jadi kayak mereka (dewasa)tapi nggak mau menghargai mereka. nggak mau masuk ke komfromitas mereka.
Nice tips. Tapi memang dasarnya saya tipe orang yang tidak mempan dengan teori. Jadi setelah membaca tips di atas, saya pending dulu tulisan ini dan akan saya lanjutkan ketika saya sudah mencapai tingkat kedewasaan yang saya harapkan dan orang lain harapkan.
Seharusnya saat ini pernikahan adalah jalan terbaik saya untuk memperbaiki hidup. Banyak teman dan sahabat saya yang menyarankan untuk segera saja menikah. Hmmm... Andai segampang diucapkan, sudah lama saya menjadi istri orang dan punya beberapa buah hati yang lucu-lucu.
Untuk menikah saat ini, tampaknya saya belum siap. Dan orang tua saya pun masih saja berkata "anak saya masih kecil" setiap kali ada orang yang hendak melamar atau pun menanyakan kapan saya menikah. Hal ini benar-benar membuat saya terpukul dan sadar bahwa di mata orang tua saya, saya belum dewasa hingga belum pantas menikah.
Jadi, daripada membahas bagaimana menjadi calon istri yang baik, saya lebih baik membahas bagaimana menjadi anak yang dewasa dan dapat dipercaya orang tua. Hehehe, saya sadar betul bahwa sifat saya masih kekanak-kanakan dan masih sering ngambekan. Jadi wajar saja dianggap belum pantas menikah.
Karena kedewasaan merupakan 'masalah' buat saya, jadi tips agar menjadi dewasa saya ambil dari beberapa sumber. Hasan Hartanto dalam blognya mengatakan bahwa, untuk menjadi dewasa, seseorang harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah orang tersebut telah menjadi dewasa, atau belum. Diantara faktor-faktor itu adalah:
1. Kematangan berfikir: Seorang yang dewasa, tahu bagaimana harus berfikir sebelum bertindak (berbuat). Ia tahu betul pentingnya perencanaan sebelum melakukan suatu hal, dan evaluasi setelah melakukannya; tidak serta merta, dan tidak “grabak-grubuk”. Seorang yang dewasa dapat berpikir logis, dan kritis.
2. Kedewasaan emosional: Seorang yang dewasa, dapat memahami dan mengendalikan gejolak emosinya. Justru itulah yang membedakannya dengan seorang anak kecil, yang tidak tahu mengapa ia emosi dan bagaimana mengendalikannya. Ia mampu menyalurkan dan menempatkan emosinya pada sesuatu yang benar, tidak salah kaprah.
3. Kecerdasan ruhaniyah: Seorang yang dewasa, memiliki jiwa yang tenang; dalam arti tidak ada kegundahan yang menyebabkan jiwanya labil. Kecerdasan ruhaniyah adalah kemampuan ruhani untuk meyakini dan memahami, bahwa ketenangan sejati itu bersumber dari yang Maha Menenangkan. Ruhani yang cerdas, mampu mengetahui betul bahwa banyak keterbatasan yang ia miliki, sehingga ia dapat menempatkan diri di hadapan Sang Penciptanya, mengetahui hak-Nya, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlashan.
4. Kepekaan sosial: Seorang yang dewasa, akan melihat dirinya adalah bagian dari masyarakat. Suatu komunitas hierarki yang majemuk. Kepekaan hati terhadap masalah dan kondisi sosial realita, akan mampu menumbuh-kembangkan rasa empati, yang menepis jauh-jauh rasa egois dalam berbuat suatu hal. Seorang yang dewasa akan sangat peka, bahwa apa yang dia berikan hari ini kepada orang lain, suatu saat akan dia terima dari orang lain.
Ada juga tips dari Fiandra yang mungkin bermanfaat bagi kamu yang mau belajar jadi dewasa:
1) tidak berbicara keras
hal ini perlu, kadang orang menilai kita yang berbicara dengan nada keras seperti menantang si lawan bicara. emh, nggak ada salahnya di coba memelankan nada suara kita. kesannya juga jadi lebih wibawa kok.
2) tidak memotong pembicaraan orang lain.
pernah nggak sie ngrasa BT omongan kita asal aja dipotong ma orang lain, jengkel banget kan. Nah tahu nggak orang yang dewasa itu orang yang menghargai pembicaraan orang lain, mau jadi dewasa... wajib di coba juga. emang sie nggak gampang jadi pendengar yang baik.
3) tidak melepas kontrol
belajar deh buat nahan emosi, nggak gampang teriak teriak waktu marah asal semprot aja. sedih juga nggak berarti gampang mewek se enak nya... liat tempat, liat sikon. senang juga nggak asal lompat jingkrak jinkrak kepedean... fikirin juga keadaan orang lain di sekitar kita, apalagi yang bisa kena langsung imbas emosi kita.
4) hargailah orang yang lebih dewasa/tua
nah yang ini nggak kalah penting.. masa mau jadi kayak mereka (dewasa)tapi nggak mau menghargai mereka. nggak mau masuk ke komfromitas mereka.
Nice tips. Tapi memang dasarnya saya tipe orang yang tidak mempan dengan teori. Jadi setelah membaca tips di atas, saya pending dulu tulisan ini dan akan saya lanjutkan ketika saya sudah mencapai tingkat kedewasaan yang saya harapkan dan orang lain harapkan.
Jumat, 29 Oktober 2010
Pria & Wanita
Masih belum ku mengerti. Kenapa beberapa pria yang ku kenal, begitu mudah melupakan kenangan-kenangan bersama kekasihnya. Bahkan saat si wanita berusaha mengingatkan kenangan-kenangan manis saat bersama dulu, si pria tetap diam tak bergeming. Seolah -olah tidak mendengar, seolah-olah tidak pernah merasakan getar-getar kebahagiaan yang sama.
Si wanita mengajak si pria ke pantai tempat mereka mengikat janji. Tapi apa kata pria "Hmmm...ya...simpan itu untuk kenanganmu sendiri". Si wanita mengajak si pria ke cafe tempat biasa mereka makan. Tapi pria hanya berkata "Tempat ini tak lagi spesial buatku". Menyedihkan atau memang resiko bisa disetarakan dengan kata 'menyedihkan'.
Pria dan wanita memutuskan menjalin hubungan spesial merupakan resiko. Karena dengan mencintai, kita harus siap menerima resiko untuk kehilangan.
Dan dari hampir semua kisah yang sampai ke telinga ku, "mengemis" cinta adalah jalan terakhir yang dipilih para wanita. Seakan tidak ikhlas kisahnya berlalu begitu saja. Si wanita rela melakukan apapun demi sang pria. Sifat dasar wanita yang selalu mau diperbudak perasaannya sendiri, menyebabkan banyak kerugian baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Berusaha bunuh diri untuk menarik perhatian si pria, mengejar-ngejar si pria kemana pun ia pergi, melarang si pria pergi dengan wanita lain, dan segudang cara lain yang konyol dan buang-buang waktu.
Jika wanita sudah mencapai level tindakan yang demikian, maka bisa dipastikan dia sudah berada di zona hitam di kehidupannya. Tidak kuat iman, kerusakan mental, gangguan pikiran dan fisik yang tentu saja sia-sia. Pikiran "ada ribuan pria di luar sana" tak lagi sempat mampir di otaknya.
Di sisi lain, di sisi yang terang tentu saja, si pria dengan tenang tersenyum. Walau agak sedikit khawatir karena hidupnya dirongrong oleh wanita yang walaupun cantik, tapi tidak sehat jiwanya. Pria, yang logika selalu mendominasi pikirnya, bisa dengan mudah melewati masalah percintaan. Dia cukup melenggang pergi dari kisah yang ia rasa tak cocok untuk masa depannya. Dia bahkan tak hendak sedikit pun melihat ke belakang. Kejenuhan dan ketertarikan pada wanita lain merupakan dua alasan yang paling pasaran buat pria.
Tapi Sobat...kenyataan pahit di atas bisa saja berlaku sebaliknya...
So, sudah tau harus bagaimana menghadapi "cinta" kan?
Semoga cinta sejati singgah di hidupmu,
Cinta yang jauh dari nafsu dunia,
Cinta karena Allah SWT :-)
Si wanita mengajak si pria ke pantai tempat mereka mengikat janji. Tapi apa kata pria "Hmmm...ya...simpan itu untuk kenanganmu sendiri". Si wanita mengajak si pria ke cafe tempat biasa mereka makan. Tapi pria hanya berkata "Tempat ini tak lagi spesial buatku". Menyedihkan atau memang resiko bisa disetarakan dengan kata 'menyedihkan'.
Pria dan wanita memutuskan menjalin hubungan spesial merupakan resiko. Karena dengan mencintai, kita harus siap menerima resiko untuk kehilangan.
Dan dari hampir semua kisah yang sampai ke telinga ku, "mengemis" cinta adalah jalan terakhir yang dipilih para wanita. Seakan tidak ikhlas kisahnya berlalu begitu saja. Si wanita rela melakukan apapun demi sang pria. Sifat dasar wanita yang selalu mau diperbudak perasaannya sendiri, menyebabkan banyak kerugian baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Berusaha bunuh diri untuk menarik perhatian si pria, mengejar-ngejar si pria kemana pun ia pergi, melarang si pria pergi dengan wanita lain, dan segudang cara lain yang konyol dan buang-buang waktu.
Jika wanita sudah mencapai level tindakan yang demikian, maka bisa dipastikan dia sudah berada di zona hitam di kehidupannya. Tidak kuat iman, kerusakan mental, gangguan pikiran dan fisik yang tentu saja sia-sia. Pikiran "ada ribuan pria di luar sana" tak lagi sempat mampir di otaknya.
Di sisi lain, di sisi yang terang tentu saja, si pria dengan tenang tersenyum. Walau agak sedikit khawatir karena hidupnya dirongrong oleh wanita yang walaupun cantik, tapi tidak sehat jiwanya. Pria, yang logika selalu mendominasi pikirnya, bisa dengan mudah melewati masalah percintaan. Dia cukup melenggang pergi dari kisah yang ia rasa tak cocok untuk masa depannya. Dia bahkan tak hendak sedikit pun melihat ke belakang. Kejenuhan dan ketertarikan pada wanita lain merupakan dua alasan yang paling pasaran buat pria.
Tapi Sobat...kenyataan pahit di atas bisa saja berlaku sebaliknya...
So, sudah tau harus bagaimana menghadapi "cinta" kan?
Semoga cinta sejati singgah di hidupmu,
Cinta yang jauh dari nafsu dunia,
Cinta karena Allah SWT :-)
Minggu, 30 Mei 2010
Gunung Rinjani
Entah kenapa...subuh ini terbangun karna bermimpi berada di Puncak Rinjani...
Keinginan mendaki gunung setinggi 3.726 m itu masih harus tertunda karna belum mendapat restu dari Mama tercinta...
Dilema antara obsesi dan tanggung jawab...
Ya Allah...kan ku ibaratkan hidup ini ibarat Rinjani itu. Sekuat tenaga dengan perbaikan imanku dan penjagaan hatiku...
Kan ku daki puncak Ridho-MU ya Rabb...
Keinginan mendaki gunung setinggi 3.726 m itu masih harus tertunda karna belum mendapat restu dari Mama tercinta...
Dilema antara obsesi dan tanggung jawab...
Ya Allah...kan ku ibaratkan hidup ini ibarat Rinjani itu. Sekuat tenaga dengan perbaikan imanku dan penjagaan hatiku...
Kan ku daki puncak Ridho-MU ya Rabb...
Langganan:
Komentar (Atom)